wawancara dan do’a nabi musa

Suatu pagi aku harus berangkat ke Jakarta untuk menghadiri sesi wawancara sebuah perusahaan multinasional. Rumahku di Bogor dan aku akan berangkat kesana  dengan kereta. Pagi2 benar aku sudah bangun dan mempersiapkan semuanya. Setelah sholat shubuh dan mengaji aku cek jadwal kereta pagi itu, dan aku memutuskan akan naik kereta jam 7. Sebenarnya jadwal wawancaraku jam 10.30, tapi kupikir gapapa nyampe lebih awal walaupun nanti menunggu agak lama disana,lagian aku juga harus mencari2 dulu gedung itu karena belum pernah kesana.

Tiba di stasiun pukul 6.50, aku akan naek kereta pakuan, tiketnya 11 ribu kawan,kalo naek ekonomi tiketnya 2000 (kalo ga salah). Perbedaan pakuan dan ekonomi adalah AC vs kipas angin, bersih vs rada kotor, pintu tertutup vs pintu terbuka dan kereta pakuan lebih cepat nyampe tujuan dari ekonomi karena berhenti hanya di stasiun2 tertentu saja. Sambil menunggu kereta  dateng. Aku bertemu dengan teman SMA ku, seorang perempuan kawan, dulu tak pernah sekelas,jadi gak begitu kenal, Cuma tau muka. kami akhirnya ngobrol dan ternyata dia juga sedang akan melaksanakan tes kerja di Jakarta di sebuah perusahaan asuransi. Saat itu, dia ngajak salaman, dia sudah menyodokan tangan padaku, namun dengan spontan aku menarik tanganku karena aku tak ingin menyentuh tanganku. Dalam hatiku, semoga saja dia tersinggung, karena ada yang lebih berhak menyentuh tangannya, suami dan mahramnya tentu saja, begitu yang diajakan agama. Kawan, sebenarnya aku pun masih belum konsisten mengenai masalah ini,kadang dalam dunia professional salaman dengan lawan jenis tak bisa terhindarkan.

Tak lama kemudian kereta datang, semua calon penumpang sudah siap, dan tiba2  seorang ibu di sebelahku dengan setengah teriak berkata padaku “mas, ini gerbong kereta khusus wanita” aku kaget,tanpa pamit pada temanku itu, aku bergegas dengan setengah lari ke gerbong lain. Calon penumpang Saling berebut mendapakan tempat duduk,kulihat hampir semuanya mendapatkan tempat duduk ,begitu pun aku, Alhamdulillah, namun seketika aku kaget didinding tempat aku duduk ada tulisan : 1. Orang cacat, 2. Ibu hamil, 3. Lansia. Ya ampun ini tempat duduk khusus mereka, hatiku sedikit bergejolak karena ini bukan hakku walaupun memang di sekitarku tidak ada ketiganya, Yasudahlah pikirku. Diperjalanan Aku masih kepikiran masalah salaman tadi, jangan2 nanti kalo aku sudah terkenal bisa mendapatkan kasus yang sama seperti Pak Tifatul Sembiring (Menkoinfo) yang bersalaman dengan istri presiden Amerika, padahal dilingkungan kerjanya beliau terkenal anti salaman dengan wanita yang bukan mahramnya, banyak orang kecewa akibat insiden salaman itu, berita itu sampai ada di Koran Amerika, keren juga,hehe..  Seorang teman saat itu sms aku agar memperbanyak membaca doa nabi Musa tatkala akan berhadapan Fir’aun, biar lisan kita lancar berbicara. Ketika dulu menjadi moderator Sekolah Pra Nikah di salman, seorang ustad juga menganjurkan agar  sering membaca doa ini biar sukses.  Lalu aku pun membacanya : “…..

Pukul 08.05, kereta berhenti di stasiun manggarai, dan aku pun turun, keluar dari stasiun aku disambut oleh puluhan tukang ojeg dan beberapa bajaj. Kawan, perasaanku seperti pemain bola Indonesia yang berhasil membawa piala dunia ke tanah air, disambut oleh ribuan penggemar (Lebay). Aku tak menghiraukan panggilan mereka, aku  langsung singgah di warung kopi, ngobrol bersama seorang pemuda sambil menanyakan alamat tempat aku wawancara,dia tidak tau, lalu aku balik lagi  stasiun untuk bertanya kepada petugas, dan dia juga tidak tau. Akhirnya ada seorang gadis, cukup seksi kawan,  yang nampak terburu2 untuk masuk ke stasiun, lalu aku menyergahnya, dan bertanya padanya, dia menjelaskan.

Gadis : “mas jalan dulu ke arah sana, nanti ada terowongan, setelah melewati terowongan akan nyampe di terminal bis manggarai, disana tinggal naek bis 66”

Aku : “ makasih Mba”

Mba : “ sama2, Hati2 yach”

Kemudian aku berjalan meninggalkan gadis itu dan gadis itu sudah masuk ke stasiun. Saat berjalan kaki, sempat terpikir kenapa aku tidak membalas mengucapkan “hati2” pada gadis itu. Payah!

Akhirnya aku nyampe juga digedung itu tepat jam 9.00. Gedungnya cukup unik, bagian atasnya berbentuk bulat, persis seperti kepalaku sekarang yang dicukur sampe Gundul.

Tidak banyak yang dipanggil wawancara hari itu, mungkin 10 orang, disana aku bertemu dengan 3 orang teman sejurusan dan seangkatan, alhamdulilllah, ada teman ngobrol.

Tibalah bagianku di wawancara, diawali dengan menjelaskan keluarga,latar belakang pendidikan, aktivitas selama kuliah, mau gaji berapa, dll. Aku rada di ‘bantai’ saat ditanya tentang Karisma (Keluarga Remaja Islam),dia menanyakan prestasiku yang real di karisma dibandingkan dengan karisma2 sebelumnya, aku jujur, tidak ada. Kemudian ketika ditanya tentang oil company, aku menjelaskan dengan jujur bahwa kerja di oil company cukup bagus, menantang, dan lebih santai ketimbang kerja di service oil company, padahal saat itu aku diwawancara oleh perusahaan service oil company. Mestinya aku bagus2in service oil company. Kawan, Mungkin ini pengaruh do’a nabi Musa, sehingga aku menjelaskan apa adanya, padahal sebelumnya pas ngobrol2 ma temen udah berencaana kalo ditanya kaya gitu, ntar bagus2in aja service oil company. Di akhir wawancara, pewawancara menanyakan lagi kamu jadi pilih mana, oil company atau service oil company. Lalu aku menjelaskan bahwa keduanya tidak masalah bagiku. Yang pertama kali menerimaku kerja, itu yang akan kuambil.

Setelah selesai wawancara aku sempat satu lift dengan bapak yang mewawancaraiku, dan dia mengajakku ngobrol, kali ini suasana lebih cair karena kita ngobrol dengan bahasa Indonesia tidak seperti wawacara tadi yang harus berbahasa inggris.

Pulang dari wawancara, aku pulang ke bogor naek kereta ekonomi, harga tiketnya 2000. Ditumpuklah aku seperti ikan cue didalam kereta bersama orang2. Tiap berenti di stasiun, penumpang malah makin banyak yang naik daripada yang turun. Selain itu Kawan, kelebihan naek kereta ekonomi adalah banyak sekali orang yang jualan diantaranya jual minuman, buah, gunting, pulpen, racun tikus,dll. hati2 juga, banyak copet berkeliaran,dan copetnya bawa pisau untuk merobek tas kita. Namun di balik itu semua , banyak pelajaran hidup yang bisa kuambil. Disana aku bisa belajar sabar. Ditumpuk bersama  sesama manusia, saling berbagi bau keringat, melihat berbagai macam orang bagaimana bersabar menghadapi hidup yang makin susah, mendengarkan nyayian bayi menangis karena kepanasan, dan lain2. Menurutku, Bisa jadi banyak orang masuk surga  itu karena sabar dan ikhlas menjalani hidup susah. Mereka bukan ustad yang ilmu agamanya tinggi, mereka tidak pernah melakukan kegiatan seperti para aktivis dakwah, mereka tak pernah kuliah, mereka mungkin jarang mendengarkan tausiyah, jarang shalat berjamaah dll. Tapi aku yakin mereka bisa masuk surga Allah dengan bekal sabar dan ikhlas hidup dalam kesusahan. Buktinya aku sering menemukan banyak orang yang hidupnya susah, mati dengan tenang, padahal dalam hal ibadahnya, tidak ada yang special.

Ceritaku tak berhenti sampai sana kawan, sampai stasiun depok, kereta yang kutumpangi mogok, penumpang pun tumpah dan harus pindah ke kereta yang lain. Lima menit kemudian kereta pun datang,kereta yang datang juga bukan kereta kosong tapi hampir penuh penumpangnya. Langsung saja kereta itu disambut oleh penumpang yang keretanya mogok. Mereka memaksa masuk, sudah bisa kubayangkan apa yang terjadi didalam kereta. Beberapa penumpang tidak bisa masuk dan harus menunggu, termasuk aku. Aku memutuskan untuk keluar stasiun dan pulang dengan minibus saja.

Sampe di terminal depok, aku putuskan sholat dulu. Saat aku tanya mushola pada seorang ibu yang jaga wc umum, si ibu itu nampak kaget,entah kaget kenapa, mudah2an tidak kaget karena mendengar istilah sholat. Kemudian dengan ramah dia menjelaskan seperti berikut : “ sayang, musholanya sebelah sana, ada di atas, tapi wudunya disini “. Tersanjung diriku, ibu itu manggil aku dengan sapaan sayang, bahkan ia juga sempat mau meminjamkan sandal jepitnya, namun aku menolak.

Pukul 14.15 aku sudah berada di bis miniarta, bisnya lebih butut dari bus damri yang ada di bandung,hehe. Diperjalanan penumpang mulai penuh. Duduk disampingku seorang ibu bersama anaknya. Anak itu bilang padaku : “ Ih, si om botak “ kemudian dengan berani anak itu memegang jenggotku yang Cuma beberapa lembar itu dengan gemas. Aku hanya tersenyum dan rada malu diliatin orang banyak.

Udah dulu kawan.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: