Bagi2 Islamnya lah ama Gua

Ijinkan saya mengutarakan pemikiran dan pengalaman saya..

Berawal dari pertemuan saya dengan 2 sahabat SMA yang sudah lama tak berjumpa. Yang satu baru saja selesai sidang sarjana, sedang menunggu wisuda. Satu lagi masih berjuang menyelesaikan penelitian tugas akhirnya. Aku sendiri sudah lulus kuliah 6 bulan yang lalu. Ternyata tak banyak yang berubah diantara kami dari segi karakter, cara bicara, cara bercanda dan cara tertawa. Namun Secara fisik, kita memiliki masalah yang sama, masalah dengan kulit kepala. Sekarang bentuk kepala kita hampir sama, kehilangan rambut lebat yang dulu, berubah menjadi rambut tipe2 calon professor. Ah, semoga saja suatu saat nanti kita bisa menjadi seperti professor yang biasanya memiliki pemikiran yang bijaksana, pengalaman ilmu segudang, dan berhati2 dalam berpendapat. Semoga..

Berbagai kisah diceritakan tatkala bertemu waktu itu. Ada kabar baik, namun banyak juga kabar sedih. Dahulu kita sama2 aktif dalam organisasi keislaman di SMA. Alhamdulillah selama masa itu kita lumayan terjaga, tak tergerus oleh budaya2 yang tidak baik. Cerita pun berlanjut menuju bab tentang kiprah masing2 selama 4 tahun perkuliahan. Hmm, setelah panjang lebar berikisah, aku sampai pada kesimpulan akhir. Nampaknya nasib kita bertiga hampir sama, mengalami metamorphosis tak sempurna akibat tak konsisten mengikuti indahnya pembinaan tarbiyah. Aku sangat merasakan itu, pernah ku katakan pada teman2ku di forum ‘warung kopi’ di Bandung bahwa aku telah melewati sistem kaderisasi yang kusebut sebagai “kaderisasi penyesalan”, sebuah sistem yang dapat membuat orang yang mengikutinya menyesal. Menyesal karena tak sempurna mengikuti berbagai kegiatan pembinaan yang telah disusun oleh orang2 hebat kaderisasi. Menyesal tak ikut ta’lim, menyesal tak ikut mentoring, menyesal tak ikut kajian, menyesal tak ikut bahasa arab, menyesal tak ikut tahsin, menyesal tak ikut tifan dan masih banyak penyesalan yang lain. Kaderisasi penyesalan tentu saja hanya bisa dirasakan oleh orang yang menyesal yang tak bisa memanfaatkan dengan baik kesempatan untuk mendapatkan ilmu yang baik. Tentu saja orang itu tak boleh larut dalam penyesalan. Yang harus dilakukan adalah memanfaatkan usia yang masih tersisa untuk menutup lubang2 kesalahan yang telah lalu, semangat harus lebih tinggi karena orang itu tak mau menyesal lagi bukan? Sebab orang itu sudah tahu pahitnya penyesalan. Buat junior2ku (so senior,hehe), semoga anda bisa memanfaatkan kesempatan yang ada sehingga anda tidak menjadi lulusan sistem “kaderisasi penyesalan”. Berusahalah agar anda sudah menjadi kupu-kupu ketika lulus kuliah.

Selanjutnya aku menyimak pengalaman dua sahabatku itu, bagaimanakah kiprah mereka? Dimulai dari sahabatku yang bertubuh kurus. Ia kisahkan pengalamannya selama berkuliah di sebuah institute di kota hujan. Tahun pertama ia lewati di organisasi keislaman, ia habiskan waktunya untuk menempa diri menjadi insan yang berakhlaq mulia, sangat menjaga dalam bergaul, sampai ada cerita, tatkala ia akan memacu sepeda motornya, ia disergah oleh seorang perempuan, teman sejurusan yang sandal sepatunya rusak, perempuan itu meminta pertolongan padanya agar bisa mengantarnya sampai depan gerbang kampus karena ia tak mau bersusah payah berjalan beberapa kilometer tanpa alas kaki. Sahabatku bimbang sejenak, namun ia katakan singkat pada perempuan itu, “maaf, bukan mahrom”. Jiwa kemanusiaannya ingin menolong, namun ia memilih tidak menolong karena khawatir ada hukum syariat yang ia langgar. Hmm, terkadang kita sering berhadapan dengan situasi sepele seperti ini, sulit untuk mengambil tindakan yang tepat. Aku sendiri dahulu pernah berdiskusi tentang masalah akhwat yang dibonceng ikhwan dalam keadaan darurat, misalnya ketika seorang akhwat rapat di himpunan sampai tengah malam dan tak ada yang mengantar. Hal ini dialami temanku, akibat kejadian ini si ikhwan menjadi sorotan orang2 mesjid. Aku mencoba membelanya. Pikiran singkatku, ya kalo benar2 darurat, gapapa diantar saja asal hati mereka tetep bersih, tidak ada pikiran macam2, anggap aja naik ojeg, dari pada terjadi apa2 di jalan. Alhasil, aku kena damprat oleh seorang akhwat senior karena menurutnya tetap saja hal itu tidak boleh, lebih baik si akhwat itu pulang sendiri, atau menginap rumah akhwat lain yang berdekatan. Hmm, baiklah, emang dangkal ternyata ilmu saya,heu.

Jadi kemana2 begini. Kita lanjutkan cerita sahabatku yang kurus tadi. Ternyata di tahun2 selanjutnya ia tidak lagi aktif jadi aktivis masjid, ia memilih aktif di himpunan mahasiswa jurusannya. Ia merasa kurang cocok saja jadi aktivis masjid dan ada beberapa hal yang membuatnya ingin keluar. Rapat yang kadang molor, pernah diomelin akhwat, merasa belum bisa berakhlak seperti orang2 mesjid. Di himpunan, ia disambut cukup baik. Kesan sebagai anak masjid masih melekat pada dirinya. Ia merasa lebih bermanfaat bergaul disana walaupun lingkungannya kurang terjaga seperti di organisasi masjid. Ia pernah menegur adik kelasnya saat rapat himpunan karena memakai celana pendek, ia bilang “bukannya gua so alim teman, tapi asa kurang sopan aja rapat pake celana pendek”, si adik kelas pun menurut dan langsung mencari sarung. Pernah juga ia menghentikan rapat  agar para peserta melaksanakan sholat terlebih dahulu. Hmm, tapi disisi lain terasa berat juga berada disana, lama kelamaan rada tergerus juga imannya. Sekarang ia agak sedikit longgar, kalo ada perempuan yang ketemu di jalan minta tumpangan. Ia angkut juga. Haduh…

Sekarang kukisahkan sedikit pengalaman ‘spiritual’ sahabatku yang kedua. Ia adalah sahabat yang paling jenaka di SMA, tubuhnya lebih gendut dari saya,hehe (emang gua pernah gendut?). Berkuliah di salah satu sekolah tinggi di kota kembang. Nasibnya hampir sama, sempat aktif di organisasi berbasis masjid, namun akhirnya keluar dan aktif di tempat lain. Ia sempat berkisah ketika masih aktif di BAZIS (Badan Amil Zakat Infak Shodaqoh). Disana kalo rapat antara ikhwan dan akhwat disekat oleh hijab kain sehingga tidak bisa saling melihat. Saat rapat berlangsung, dengan “sopannya” ia buka kain penghalang karena berkali-kali tak bisa mendengar suara akhwat dengan jelas. Haha.. parah juga. Ya, kalo aku ngeliat perbedaan terkait teknis rapat yang ada, pake hijab dan ada yang tidak adalah bukan masalah besar. Aku pikir dua2nya punya dasar masing2. Yang penting keduanya tidak saling menjelek2an karena perbedaan tersebut. Mana pendapat yang lebih kuat? Rapat pake hijab atau engga? Bukan kapasitas saya untuk menjawab. Lanjut lagi ceritanya. Akhirnya ia keluar dari organisasi tersebut dan aktif di organisasi lain. Alhasil, ia harus berhadapan dengan kehidupan yang tak ideal menurut kacamata islam. Baju2 seksi sudah pemandangan biasa, tak ketinggalan godaan2 wanita harus ia dapatkan. Ia juga lagi dikejar seorang cewe yang menyukainya. Namun ia tak suka cewe tersebut. Bukan karena fisiknya yang tidak menarik, tapi karena si cewe sudah puluhan kali bergonta-ganti pacar. Pernah juga ia pergoki teman kuliahnya berduaan cewe-cowo di kamarnya. Haduuh.. Alhamdulillah, ia bisa selamat dari pergaulan di lingkungan tersebut. Masih ada iman melekat di hatinya sehingga tak terjatuh dalam jurang maksiat lebih dalam. Tapi secara zohir ada yang berubah dari kelakuannya. Sekarang hela nafasnya sering dicampur dengan asap tembakau. Ia jadi kecanduan ama rokok. Heu..

Hmm.. kayanya di beberapa kampus itu bisa dibagi menjadi dua lingkungan deh, Masjid dan non masjid. Temanku yang kuliah di universitas jaket kuning yang ada di depok pernah bilang. “Pemilu BEM tahun ini dimenangkan oleh kubu masjid, tahun lalu dikuasai anak non masjid”. Emm, mungkin di kampusku juga sama kali ya. (Teuing ah, teu apal di kampus urang mah, ga mau sotoy). Aku coba analisis. Masjid biasanya dikumpuli oleh orang2 baik dan yang mau baik, non masjid dipenuhi oleh orang2 yang belum baik (baik dan belum baik pake kacamata syariat tentunya). Masalah selanjutnya adalah bisakah orang2 masjid menularkan kebaikan kepada orang2 di luar masjid. Jawabannya pasti bisa! Dan pasti berat!

Sebenarnya, kuncinya adalah satu, yaitu kita mesti menyatukan kedua lingkungan dalam satu pergaulan. Ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan. Orang masjid yang banyak bergaul di lingkungan non masjid, atau orang masjid yang mengajak orang non masjid biar betah maen di masjid. (loba kata masjid, lieur). Kemungkinan pertama jelas membutuhkan orang-orang masjid yang memiliki iman intan (intan =mineral yang paling keras di muka bumi) dan juga harus bisa pandai bergaul. Dia bisa bercampur dengan lingkungan non masjid, tapi tidak larut. Ikatan pergaulannya adalah ikatan kovalen, bukan ikatan ionic. Soalnya saya perhatikan, banyak orang masjid yang tak pandai bergaul. Belum apa2 udah ill feel duluan. Ngeliat orang pacaran yang parah langsung benci. Ya, memang kita mesti benci ama perbuatannya. Tapi plis, jangan benci ama orangnya. Bisa jadi mereka belum tau, belum paham, ilmunya masih dikit dibanding anda. Contoh lagi misalnya. Asa jarang saya melihat akhwat jilbab lebar yang bergaul akrab dengan akhwat2 seksi. Jadi inget, pernah ngeliat seorang akhwat (ceuk batur mah dia sholehah,ceuk saya juga,hehe) jalan bareng bersama adik2 mentornya yang masih SMA. Yang saya kagum, semua adik mentornya sudah berkerudung. Jadi bertanya, dia emang dari awal ngebina anak2 yang sudah bererudung atau dia ngebina adik yang tadinya tidak berkerudung, kemudian menjadi berkerudung gara2 dimentor ama akhwat ini. Biasanya sih kalo akhwat yang ilmunya tinggi disuruh ngementor adik2 yang memang sudah baik, kalo akhwat2 yang ilmunya agak tinggi disuruh ngementor adik2 yang caliwura. Sebenernya saya pengen banget ngeliat masjid itu rame oleh orang2 yang lagi pada mentoring. Cewe2 yang masih berpakaian seksi itu pada seneng datang ke masjid untuk mentoring ama tetehnya. Cowo2 yang ngomongnya masih anj**g2an itu juga pada seneng datang ke masjid buat mengikuti mentoring. Masjid kan tempat untuk mensucikan diri, bukan tempat orang-orang yang udah suci. Bagaimanapun hal ini tak bisa terjadi kalo orang2 masjid tak bisa bergaul akrab dengan orang2 non masjid. Anda juga harus bisa bertahan ketika berada di lingkungan non masjid. Tapi ati2, jangan malah larut. Bapak Hasan Al-Bana aja pernah dakwah dari kafe ke kafe. (saya mah ga kuat,malah kebawa ntar,hehe).

Kemungkinan kedua adalah anda ‘jebak’ orang2 yang jarang ke masjid biar seneng maen ke masjid. Biasanya orang2 non masjid juga udah males ngeliat orang2 yang aktif di masjid. Dua sahabat saya aja yang tadinya udah aktif di masjid malah keluar dan aktif diluar. Buatlah orang2 itu pada nyaman di masjid. Jadilah anda pribadi2 yang ramah,berikan senyum manis anda, tutur kata anda yang lembut, dan sapaan yang hangat. Itu! (pake gaya Pak Mario Teguh)

Haduh udah pusing saya. Udah dulu ah, intina mah gaul gaul dan gaul. Tapi syar’i men. Banyak sebenarnya orang yang pengen berubah, tapi keburu silau oleh pancaran kesholehan anda, mereka merasa ga pantes bergaul dengan anda. Oiya sebagai motivasi, dulu saya pernah di mentor oleh ketua DPC sebuah partai islam. Ia ceritakan bahwa partainya telah berhasil merangkul kelompok penyanyi jalanan. Mereka menjadi salah satu kelompok yang cukup loyal terhadap partai islam. Mungkin mereka masih nyanyi2 di jalanan, gaulnya tak terjaga. Tapi mereka mulai sedikit mengenal islam. Yang tadinya ga pernah sholat sekarang mah pada mau sholat. Perubahan itu pelan2, ga bisa langsung 1800. Kan kita udah banyak melihat cerita, hidayah itu datangnya macem2.

Zaman udah edan, hayu2, bagi2 islamnya lah ama yang laen.

Muhamad Aji

Lulusan kaderisasi penyesalan.


2 responses to “Bagi2 Islamnya lah ama Gua

  • Seniors

    Hi there! This post couldn’t be written any better! Reading this post reminds me of my old room mate! He always kept chatting about this. I will forward this page to him. Pretty sure he will have a good read. Thanks for sharing!

    • Muhamad Aji

      Hi, thanks for your coming to my blog. i’m not too smart to write something. Sorry for many mistake in this note that make u inconvenient. This note has written long time ago when i was still single🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: