legitimasi kejahatan

Tempat baru akan mengajak kita untuk membuka lembaran baru dalam hidup. Mau tidak mau kita terus menerus bertemu dengan orang-orang yang mempunyai berbagai macam karakter. Ada ujian yang menanti tatkala kita berada pada lingkungan yang menurut kita tidak standar sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut. Ketika kita menemui ketidakidealan, maka hadapilah. Ada sebuah pernyataan dari salah satu ustad yang senantiasa menggaung di telinga saya. “Jika Iman takut dengan kekufuran, maka apa artinya dakwah?” (berat euy)..  Jika berhasil mengatasi ujian tersebut, derajat kita akan ditinggikan disisi-Nya. Namun, jika gagal, bersiap-siaplah untuk mendapatkan pantulan keburukan2 akibat kelakuan kita sendiri. Teringat perkataan Leo Tolstoy yang sering dikutip di novel-novel, “Tuhan Tau,tapi menunggu…”. Tuhan tentu saja menyaksikan seluruh aktivitas yang kita lakukan. Yang jelas Ia berjanji akan ada konsekuensi dari setiap perbuatan. Umat Rosulullah berbeda dengan umat Rosul terdahulu yang langsung diazab tatkala melakukan durhaka pada Allah. Baik dan buruk rapor kita hanya akan kita temui setelah kematian menjemput. Maka berhati2lah kawan. Jangan pernah sedetikpun merasa aman ketika anda melakukan keburukan. Jika kita mati ketika melakukan keburukan. Kecelakaanlah yang akan menanti kita selamanya.

Syukur Alhamdulillah, di dunia ini masih ada orang baik yang menjunjung nilai2 indah islam. Haha, bicara tentang orang baik, gua jadi ingat dulu pernah masang status FB yang gua kutip dari sebuah buku : “di Indonesia mungkin tokoh seperti fahri sulit ditemukan, tapi di mesir banyak…” (gak nyambung). Dipertemukanlah aku dengan beberapa orang pensiunan multinasional oil company. Mungkin ada sebagian orang yang sentimen dengan orang yang bekerja di perusahaan asing. Mereka menjudge orang2 yang bekerja di perusahaan asing sebagai budak2 kapitalis. Hmm, itu sih tergantung dari kacamata yang anda pakai. Silakan anda berteori dengan kacamata anda dan saya juga punya teori dari kacamata saya. (kasian deh  yang gak punya kacamata). Nehi2, wahai anda orang yang sedikit, janganlah menjudge seperti itu, perlu ada kepahaman yang dalam sebelum mengeluarkan sebuah statement. Boleh jadi sistemnya buruk, tapi orang2 yang didalamnya tidak semuanya buruk kawan. Malahan sekarang mah ada sekelompok orang yang sengaja memasukkan orang2 baik untuk berkecimpung di system yang buruk. Tujuannya jelas untuk menularkan nilai2 kebaikan, tapi kenyataannya, Wallahualam, mungkin saat ini saya belum merasakan ada perubahan yang signifikan. Tapi betapa mengerikan tatkala mendengar kabar2 tak sedap dari orang2 yang sebelumnya saya nilai sebagai orang2 panutan (ngeri akh). Anda juga orang yang tidak bekerja di perusahaan asing, jangan sok nasionalis, apalagi anda menghina orang yang bekerja di perusahaan asing. Jangan2 anda memang dulu gak qualified dan gagal ketika hendak masuk perusahaan asing. Dimanapun anda berada, dimanapun anda bekerja, yang dinilai Tuhan adalah siapa yang paling bertakwa diantara kamu..  Alhamdulillah, kisahnya saya kali ini bertemu dengan dua orang bapak pensiunan yang agak beda dibandingkan yang lain, setidaknya di lingkungan saya bekerja. Kebetulan saya tinggal serumah dengan mereka, beliau2 banyak memberikan pengalaman2 berharga yang tak hanya di bidang perminyakan yang saat ini saya geluti, lebih dari itu beliau mengajarkan kehidupan. Alhamdulillah setidaknya gegalau ini bisa mendapatkan orang yang membimbing, setidaknya untuk setahun ke depan.

Bagi anda yang masih sendiri, alias belum punya pembimbing, mentor, murobbi, atau apapunlah namanya, segeralah anda mencari. (saya jug masih nyari nih).  Ini penting, karena kita dihadapkan pada dunia yang sudah rabun membedakan kebaikan dan keburukan. Seorang pembimbing yang baik akan menjadi larutan buffer bagi diri kita yang akan membuat diri kita selalu berada dalam keseimbangan, istiqomah dalam kebaikan! Kebaikan akan selalu bertarung melawan kejahatan. Sekarang tinggal kita pilih, mau jadi pahlawan yang membela kebenaran atau mau jadi penjahat. Kayanya dulu pas masa kecil, kita begitu sangat menyenangi dengan tokoh2 yang menjadi symbol kebaikan. Kita akan lebih memilih satria baja hitam daripada Goldar, lebih cinta sama doraemon daripada si Giant. Betapa jelas di film2 itu mana yang baik dan mana yang jahat. Tapi kesini2 orang2 banyak yang rabun membedakan baik dan buruk. Nilai agama banyak diabaikan, norma masyarakat pun demikian.

 

NB : Hmm, Bingung untuk meneruskan tulisan ini, sudah 2 bulan tulisan yang belum selesai ini aku simpan sampai2 lupa waktu itu poin yang akan disampaikan apa,hehe.. gapapalah, yang penting publish dulu..  ntar dilanjut


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: